Tuesday, May 29, 2012

Keren! SIT Darul Abidin Pecahkan Rekor MURI


Sekolah Islam Terpadu Darul Abidin, Depok berhasil memecahkan rekor MURI peserta kuis terbanyak, yaitu 1.203 orang, pada Sabtu (26/5). Penghargaan ini diserahkan oleh Perwakilan MURI, Jusuf Ngadri pada CEO SIT Darul Abidin, Gamal Iskandarsyah.
Pemecahan rekor ini mengusung konsep Green dan IT berupa software kuis dikomputer, yang diikuti oleh peserta dari kalangan anak-anak hingga kalangan dewasa.

Acara yang dihadiri oleh Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail dan didampingi oleh beberapa rekan dari Dinas Pendidikan, DPRD Kota Depok Komisi Pendidikan, Ketua Jaringan Sekolah Islam Terpadu, Ketua Persatuan Guru Sejahtera Indonesia, dan bintang tamu Henidar Amroe.

Tak hanya pemecahan rekor, kemeriahan acara juga dilengkapi dengan pameran hasil karya siswa, peragaan IT dan lingkungan hidup, bazaar, dan hiburan.
Tiap peserta kuis mengerjakan soal kuis melalui komputer yang telah disediakan, pilihan jawaban dalam bentuk pilihan ganda. Pertanyaanya seputar ilmu pengetahuan dan wisata di Kota Depok yang harus diselesaikan dalam waktu 15 detik. Yang terlihat unik dari acara ini adalah para peserta mengenakan kostum dari barang daur ulang (konsep green) yaitu berupa robot IT ataupun kostum robot Green.

Nur Mahmudi Isma’il, Walikota Depok mengaku bangga karena Darul Abidin dapat menciptakan program IT yang penuh kecerian, bermakna wisata, namun tetap mengandung nilai edukatif. “Inilah cara baru mengenal internet sehat pada anak didik, mereka begitu menikmatinya, disusun sedemikian rupa sehingga anak-anak dapat belajar dalam kegembiraan,” jelasnya pada depoklik.
Hary, Deputi Principal Manajemen Darul Abidin mengungkapkan rasa syukurnya karena berhasil mengadakan acara ini. “Alhamdulillah, semuanya berjalan dengan lancar, luar biasa partisipasi dari para orang tua murid dan para murid serta guru membuat acara ini sukses pada akhirnya,” ungkapnya. 

Hary menjelaskan lebih lanjut bahwa tujuan dari acara ini yaitu sebagai ajang pembentukan karakter anak-anak dan remaja muslim melalui pengenalan teknologi komputer yang bermanfaat bagi pembelajaran, bersahabat, dan ramah lingkungan. 
 
“Selain mengajak para peserta didik mengenal internet sehat, acara ini juga sebagai ajang silahturahmi antar sekolah dan keluarga besar Darul Abidin, dan juga sebagai projek akhir tahun bagi siswa dan guru sekolah Darul Abidin,” tambahnya.

Dengan adanya acara ini pihak Sekolah Darul Abidin berharap, kegiatan di sekolah yang tertuju pada teknologi internet akan semakin meningkat. Kemampuan siswa dan para pengajar akan menjadi lebih baik dalam berkomunikasi, karena tuntunan di zaman sekarang telah mengacu pada kemajuan tehnologi yang canggih. 

“Tidak hanya para siswa yang belajar untuk menggunakan internet, tapi kini para pengajar sudah harus akrab dengan dunia teknologi ini,” tutupnya. 

Hesty Dimalia
- Berita dari: http://depoklik.com/2012/05/27/keren-sit-darul-abidin-pecahkan-rekor-muri.html

Foto : Hesty D.

Tuesday, February 07, 2012

Berbelanja ke Pasar Tradisional

SDIT Darul Abidin - Depok
Siswa-siswi kelas 3 SDIT Darul Abidin; melaksanakan kegiatan "Berbelanja ke Pasar Tradisional" bersama dengan Bapak/Ibu guru mereka ke pasar Depok Jaya,

Di bagi menjadi 4 kelompok dalam setiap kelas 3 Mekah, Madinah, dan Marwah. Masing-masing kelompok ada 7 atau 8 siswa-siswi. Siswa membawa sejumlah uang untuk berbelanja kira-kira Rp. 10.000,- kegiatan di kelas setelah belanja akan cookery membuat Fruit Chocolate Satay yang tentunya teknik memotong buahnya dengan konsep pecahan dalam pelajaran Matematika. 

Tujuan pembelajaran dari kegiatan di atas adalah:
IPS: mengenal jenis-jenis pekerjaan
Matematika: mengenal pecahan sederhana
Bahasa Indonesia: melakukan percakapan sederhana dengan menggunakan kalimat ringkas
Art: memasak Fruit Chocolate Satay.

Semoga bermanfaat dan menambah semangat belajar .... mr

Thursday, November 10, 2011

SIT Darul Abidin sembelih 8 ekor sapi

Senin, 7 November 2011 di SIT Darul Abidin Depok diadakan pemotongan dan penyaluran hewan qurban. Jumlah hewan qurban yang dipotong berjumlah 37 ekor kambing dan 8 ekor sapi. Semua itu merupakan hasil dari gerakan Ayo Qurban dari SIT Darul Abidin, atas partisipasi siswa, guru, dan orang tua siswa SIT Darul Abidin, ada juga pengumpulan iuran qurban para siswa TKIT Darul Abidin dan guru-guru SMPIT Darul Abidin. Satu sapi hasil iuran siswa dan tujuh yang lain dari guru dan wali murid. Untuk kambing, masing-masing hasil dari  Qurban orang tua siswa yang mempercayakan kepada SIT Darul Abidin untuk menyelenggarakan pemotongan dan penyaluran hewan qurban.
Pemotongan hewan kurban dimulai pukul 07.30 WIB, dilakukan oleh para guru dibantu oleh siswa-siswi kelas 9 SMPIT Darul Abidin dan alhamdulillah telah selesai seluruhnya pada pukul 10.30 WIB. Sedangkan untuk pengulitan, pencucian jeroan, juga penimbangan daging qurban selesai pada pukul 13.30 WIB, serta penyaluran dan pendistribusian dilakukan pukul 13.40 WIB sampai pukul 15.30 WIB. Selain tukang jagal profesional yang memotong hewan qurban itu, para siswa, karyawan, guru, dan orang tua juga turut membantu mencacah daging qurban hingga sampai tahap pembungkusan.
Pembagian paket hewan qurban sekitar  1200 paket kepada warga/masyarakat sekitar SIT Darul abidin, dibagikan melalui SIT Darul Abidin dibantu keamanannya oleh security sekolah dan kepolisian setempat. Alhamdulillah, pelaksanaan penyaluran daging qurban berjalan dengan aman, tertib, dan lancar..
Terima kasih kami ucapkan kepada seluruh siswa-siswi, pimpinan yayasan, bapak/ibu guru, karyawan, dan orang tua wali murid yang telah mempercayakan penyembelihan dan pendistribusian hewan dan daging qurban di SIT Darul Abidin. Semoga seluruh amal ibadah kita, baik haji, takbir, sholat ID, dan ibadah qurban kita diterima Allah SWT. "Taqabalallahu minna wa minka" (Al Hadits). mr

Wednesday, October 19, 2011

Medali Perak Kontes Matematika Internasional

Ayra Safanah Insani kelas 5 Madinah, siswa Sekolah Dasar Islam Terpadu Darul Abidin, berhasil meraih medali perak dalam lomba matematika tingkat internasional yang bertajuk "International Mathematic Contest" (IMC) 2011. Lomba digelar di Global Indian School Singapura, Sabtu 29/7/2011. Keikutsertaan siswa Indonesia dalam kontes ini atas prakarsa Klinik Pendidikan MIPA (KPM) Bogor.

Kesuksesan Ayra (sapaan akrabnya) memperoleh medali di Singapura memang tidak terlepas dari kecintaannya pada mata pelajaran ilmu pasti ini. Ia mengemukakan, dalam perlombaan tersebut, dirinya membawa pulang medali perak dan berhasil menyisihkan ratusan peserta dari sepuluh negara di dunia.

Menurut anak yang punya hobi membaca dan membantu mamah tuk masak di dapur ini, persiapan mengikuti lomba telah dilakukan dengan semangat dan motivasi tinggi, ”Saya mengikuti masa karantina di Bogor, selama dalam masa karantina, saya rutin dan tekun untuk mengikuti bimbingan belajar yang diberikan para pembimbing”, jelasnya.

Kontes matematika berbeda dengan Olimpiade. Kontes matematika mengadu kemampuan siswa antarkelas. Siswa kelas 4 dan 5 SD mengadu kemampuan antar siswa di kelas yang sama dari semua negara peserta. Demikian pula dengan siswa kelas VII dan VIII berlomba untuk lomba kelas yang setara. Negara-negara yang mengikuti lomba tersebut adalah Singapura, Philipina, India, Indonesia, China, China Hongkong, China Taipei, Malaysia, Korea, dan Thailand.  
Ayra adalah putra dari bapak Bayu Tri Aksani dan ibu Riza Novianti yang bertempat tinggal di Jl. R. Sanim Rt. 4/01 Tanah Baru, Beji - Depok, Siswa kelas 5 Madinah ini juga baru saja menjuarai Fachrudin Ar-Rozi Competition (FRC), Menjadi juara Pertama pada lomba yang diadakan oleh Majalah Gontor  dan Klinik Pendidikan MIPA (KPM).
”Saya senang dan nervous dapat medali perak,”ucapnya.”Saya mendalami ilmu matematika yang telah diperoleh di sekolah (SDIT Darul Abidin) dan ikut Club Math bersama Bu. Lily dan juga lebih rutin mengerjakan soal untuk persiapannya di IMC 2011," pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SDIT Darul Abidin, Joko Gumilang, S.Pi. mengaku bangga dengan prestasi anak didiknya yang mampu meraih prestasi di tingkat internasional itu. "Kami berharap, prestasi Ayra dapat menjadi inspirasi bagi siswa lain. Kami akan lebih sering mengikutkan  siswa yang berbakat dalam setiap ajang-ajang lomba sains dan seluruh mata pelajaran. Ada banyak siswa kita yang berbakat dan berprestasi juara tingkat Depok dan Nasional, terima kasih untuk prestasinya Ayra, tetap semangat dan teruslah belajar”. mr


Monday, October 17, 2011

Mengenang Fakhrudin ar-Razi, Gontor Selenggarakan Lomba Matematika

Jakarta (6/10) Untuk mengenal tokoh intelektul Islam, Fakhruddin ar-Razi Majalah Gontor bekerjasama dengan Klinik Pendidikan MIPA (KPM) menggelar lomba matematika dan studi Islam bertajuk Fakhruddin ar-Razi Competition (FRC).
Menurut Pimpinan Redaksi Majalah Gontor Adnin Armas, mengatakan ini merupakan kompetisi pertama di Indonesia bahkan di dunia yang menggabungkan matematika dengan studi Islam.

Lahirnya kompetisi yang menggabungkan dua disiplin ilmu tersebut, katanya,  dilatarbelakangi makin menipisnya pengetahuan agama Islam para siswa. Mereka lebih dominan mengejar pengetahuan umum ketimbang pengetahuan agama. Seharusnya, keseimbangan antara keduanya harus diwujudkan untuk mendapatkan pendidikan yang integral.


FRC merupakan kepedulian Majalah Gontor dalam membangkitkan kembali pengetahuan agama Islam pada diri siswa yang cerdas. Para siswa yang pandai dalam bidang pengetahuan umum dan matematika hendaknya dibekali dengan nilai-nilai dan pengetahuan agama Islam agar mereka menjadi pribadi yang memiliki akhlakul karimah.


Adnin menerangkan, dulu, ketika zaman keemasan Islam, telah banyak lahir ilmuwan Muslim yang juga mumpuni di bidang agama Islam. Mereka banyak menemukan teori-teori baru dan membuat berbagai macam peralatan yang memiliki arti penting dalam sejarah peradaban dunia. Misalnya, di bidang matematika, para pakar matematika Muslim telah memberi kontribusi nyata dalam menemukan berbagai macam teori, seperti sistem bilangan desimal, sistem operasi dalam matematika seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, eksponensial, dan penarikan akar.


Tak cuma itu, mereka juga memperkenalkan angka-angka dan lambang bilangan, termasuk angka nol (zero). Mereka juga menemukan bilangan phi, persamaan kuadrat, algoritma, fungsi sinus, cosinus, tangen, cotangen, dan lain-lain. Pakar matematika Muslim itu antara lain: al-Khawarizmi, al-Kindi, al-Karaji, al-Battani, al-Biruni, dan Umar Khayyam yang telah banyak memberikan warna di dunia sains.


Sementara itu di bidang kimia ada nama Jabir Ibnu Hayyan, al-Biruni, Ibnu Sina, ar-Razi, dan al-Majriti. Jabir Ibnu Hayyan yang telah memperkenalkan eksperimen kimia mendapat predikat sebagai “Bapak Kimia Modern”.


Di bidang biologi para ilmuwan Muslim mencatatkan namanya. Mereka antara lain al-Jahiz, al-Qazwini, al-Damiri, Abu Zakariya Yahya, Abdullah bin Ahmad bin al-Baytar, dan al-Mashudi. Al-Jahiz adalah pencetus pertama teori evolusi. Sayang, namanya tidak disebutkan dalam buku-buku pelajaran biologi di sekolah maupun di perguruan tinggi. Pelajar dan mahasiswa lebih mengenal nama Charles Darwin, ilmuwan yang hidup seribu tahun sepeninggal al-Jahiz.


Sedangkan di bidang fisika ada al-Haitham, Ibnu Bajjah, al-Farisi, dan Fakhruddin ar-Razi. Selain jago fisika, Fakhruddin al-Razi juga jago matematika, astronomi, dan ahli kedokteran. Ia adalah ulama yang intelek.


Fakhruddin juga seorang mufassir yang ahli kedokteran dan fuqaha yang jago matematika. Para ilmuwan Muslim yang hidup di era keemasan Islam itu memang jago di bidang ilmu kealaman, sekaligus pakar agama. Mereka ahli tafsir, pakar syariah, dan bidang-bidang lainnya.


“Kami yakin generasi Muslim yang luar biasa itu bisa kembali diwujudkan. Sebab, dua peninggalan Nabi Muhammad, yaitu al-Qur’an dan al-Hadis yang menjadi pedoman umat terdahulu, keotentikannya masih terjaga hingga sekarang atas izin Allah SWT. Dengan menjadikan keduanya pedoman hidup umat disertai kebersamaan dan kerja keras berkesinambungan, lahirnya generasi emas umat adalah hal yang niscaya,” katanya.


Demi melahirkan generasi mumpuni di bidang sains dan studi Islam inilah Majalah Gontor bekerjasama dengan KPM pimpinan Ir R Ridwan Saputra menggelar Fakhruddin ar-Razi Competition. Kompetisi ini akan mengukur kemampuan siswa, khususnya siswa sekolah dasar dan sekolah lanjutan tingkat pertama, dalam matematika dan ilmu agama.


Acara akbar ini akan diadakan pada 8 Oktober 2011 di Kampus STEKPI, Kalibata, Jakarta Selatan (untuk babak penyisihan) dan pada 15 Oktober 2011 di Kampus al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (untuk babak final). Sekitar 700 siswa dari beberapa daerah di Indonesia mengikuti kompetisi ini. Mereka antara lain datang dari wilayah Jabodetabek, Bandung, Cirebon, Tasikmalaya, Sukabumi, Pandeglang, Serang, Kediri, dan Jember (Jawa Timur). (Agus)


Sumber: Dari sini

Kompetisi ini akhirnya dimenangkan oleh salah seorang siswa SDIT Darul Abidin, yakni Ananda Ayra Safana kelas 5 Madinah dan berhak atas hadiah Piala, Uang Pembinaan sebesar Rp. 1.000.000,- dan piagam penghargaan. Selain Ayra ada beberapa siswa-siswi SDIT Darul Abidin yang ikut serta dalam ajang tersebut, seperi M. Faiz Ismail, Ayra, Fauzan, dkk.

Selamat & Sukses kepada Ayra Safana Kelas 5 Madinah yg telah berhasil menjadi Juara I Lomba Matematika Tingkat Nasional yg diselenggarakan oleh Majalah Gontor bekerjasama dengan Klinik Pendidikan MIPA (KPM) bertajuk Fakhruddin ar-Razi Competition (FRC). Terima kasih prestasinya, semoga menjadi inspirasi bagi teman- teman yang lain. Amiin.

Monday, October 03, 2011

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Anak

Prestasi belajar di sekolah sangat dipengaruhi oleh kemampuan umum kita yang diukur oleh IQ, IQ yang tinggi meramalkan sukses terhadap prestasi belajar. Namun IQ yang tinggi ternyata tidak menjamin sukses di masyarakat

Dalam rangka Seminar Sehari tentang Faktor-faktor yang mempengaruhi Prestasi Belajar Anak dan Kurikulum Berbasis Komputensi di Sekolah Dasar

1. Pengaruh Pendidikan dan Pembelajaran Unggul

Seorang secara genetis telah lahir dengan suatu organisme yang disebut inteligensi yang bersumber dari otaknya. Struktur otak telah ditentukan secara genetis, namun berfungsinya otak tersebut menjadi kemampuan umum yang disebut inteligensi, sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungannya (Semiawan, C, 1997).Pada kala bayi lahir ia telah dimodali 100 - 200 milyar sel otak dan siap memproseskan beberapa trilyun informasi. Cara pengelolaan inteligensi sangat mempengaruhi kualitas manusianya, tetapi sayang perlakuan lingkungan dalam caranya tidak selalu menguntungkan perkembangan inteligensi yang berpangaruh terhadap kepribadian dan kualitas kehidupan manusia. Ternyata dari berbagai penelitian bahwa pada umumnya hanya kurang lebih 5% neuron otak berfungsi penuh (Clark, 1986).

Lingkungan pendidikan dan berbagai pusat pelatihan serta tempat kerja kita kini juga dipengaruhi oleh lingkungan global yang merupakan berbagai pengaruh eksternal dalam dinamika berbagai aspek kehidupan di dunia, Lingkungan global yang mengadung pengertian tereksposnya kita oleh kehidupan komunitas global menuntut adaptasi masyarakat kita pada kondisi global dan pada gilirannya menuntut adaptasi individu untuk bisa bertahan di masyarakat di mana ia hidup.

Interface antar berbagai stimulus lingkungan melalui interaksi untuk mewujudkan aktualitasasi diri individu secara optimal dalam masyarakat di mana ia hidup dan juga aktualisasi daerah pada masyarakat yang lebih luas, nasional maupun global, inilah yang harus menjadi perhatian pengelola ataupun atasan atas perlakuan subjek SDM, dalam hal kita, para guru dalam perlakuannya terhadap peserta didik. Interaksi yang terjadi dalam prilaku anak-anak kita. Namun secara reciprocal (timbal balik) perlakuan yang diterjadikan adalah cermin kehidupan masyarakat di mana ia hidup.

Menghadapi era global di masa yang akan datang, diharapkan kesadaran tentang reformasi pendidikan memenuhi kondisi masa depan yang dipersyaratkan (necessary condition to be fullfield). Kurun waktu milenium ke 3 dari proses kehidupan manusia sudah berjalan, dan abad ke-21 serta abad ke-22 ini bukan saja merupakan abad-abad baru, melainkan juga peradaban baru. Hal ini dikarenakan betapapun mengalami krisis moneter, Indonesia akan terkena juga oleh restrukturisasi global dunia yang sedang berlangsung. Restrukturisasi dunia, yang terutama ditandai oleh berbagai perubahan dalam bidang ekonomi, sosial, politik dan aspek kehidupan lain, mempengaruhi setiap insan manusia, laki, perempuan, anak di negara berkembang maupun di negara maju, tidak terkecuali negara Indonesia, dan terutama berdampak terhadap orientasi pendidikan.

2. Perkembangan dan Pengukuran Otak

Sebagaimana tadi dikatakan, maka cara penggunaan sistem kompleks dari proses pengelolaan otak ini sebenarnya sangat menentukan inteligensi maupun kepribadian dan kualitas kehidupan yang dialami seorang manusia, serta kualitas manusia itu sendiri. Untuk meningkatkan kecerdasan anak maka produksi sel neuroglial, yaitu sel khusus yang mengelilingi sel neuron yang merupakan unit dasar otak, dapat ditingkatkan melalui berbagai stimulus yang menambah aktivitas antara sel neuron (synaptic activity), dan memungkinkan akselerasi proses berfikir(Thompsn, Berger, dan Berry, 1980 dalam Clark, 1986). Dengan demikian inteligensi manusia dapat ditingkatkan, meskipun dalam batas-batas tipe inteligensinya.

Secara biokimia neuron-neuron tersebut menjadi lebih kaya dengan memungkinkan berkembangnya pola pikir kompleks. Juga banyak digunakan berkembangnya aktivitas "Prefrontal cortex" otak, sehingga terjadi perencanaan masa depan, berfikir berdasarkan pemahaman dan pengalaman intuitif, Prefrontal cortex yang terutama tumbuh pada ketika anak berumur duabelas sampai enambelas tahun mencakup juga kemampuan melihat perubahan pola ekstrapolasi kecendrungan hari ini ke masa depan; regulasi diri serta strategi "biofeedback" dan meditasi; berfikir sistem analisis;yang merupakan aspek-aspek bentuk tertinggi kreativitas serta memiliki kepekaan sosial, emosional maupun rasional (Goodman, 1978, dalam Clark, 1986). Sifat-sifat manusia ini banyak terkait dengan sifat-sifat inisiatif dan dorongan mencapai kemandirian dan keunggulan.

Otak dewasa manusia tidak lebih dari 1,5 kg, namun otak tersebut adalah pusat berfikir, perilaku serta emosi manusia mencerminkan seluruh dirinya (selfhood), kebudayaan, kejiwaan serta bahasa dan ingatannya. Descartes pusat kesadaran orang, ibarat saisnya, sedangkan badan manusia adalah kudanya. Meskipun kemudian ternyata, bahwa perilaku manusia juga dipengaruhi oleh ketidaksadarannya (freud dalam Zohar, 2000:39), kesadaran manusia yang oleh Freud disebut rasionya merupakan kemampuan umum yang mengontrol seluruh perilaku manusia. Berbagai penelitian kemudian membuktikan bahwa kemampuan rasional tersebut biasa diukur dengan IQ (Intelligence Quetient). Meskipun kini terbukti bahwa orang memiliki lebih dari satu inteligensi menurut teori Gardner ada 8 (teori Multiple Intelligence), ukuran yang disebut IQ mengukur kemampuan umum yang bersifat tunggal masih sering dipakai untuk menandai kemampuan intelektual dan prestasi belajar. Ternyata bahwa otak tersebut masih menyimpan berbagai kemungkinan lain.

"Celebral Cortex" otak dibagi dalam dua belahan otak yang disambung oleh segumpal serabut yang disebut "corpus callosum". Belahan otak kanan menguasai belahan kiri badan, sedangkan belahan otak kiri menguasai belahan kanan badan. Respons, tugas dan fungsi belahan kiri dan kanan berbeda dalam menghayati berbagai pengalaman belajar, sebagaimana seorang mengalami realitas secara berbeda-beda dan unik. Belahan otak kiri terutama berfungsi untuk merespons terhadap hal yang sifatnya linier, logis, teratur, sedangkan yang kanan untuk mengembangkan kreativitasnya, mengamati keseluruhan secara holistik dan mengembangkan imaginasinya. Dengan demikian ada dua kemungkinan cara berfikir, yaitu cara berfikir logis, linier yang menuntut satu jawaban yang benar dan berfikir imaginatif multidimensional yang memungkinkan lebih dari satu jawaban.

3. Kecerdasan (Inteligensi) Emosional
* Prestasi belajar di sekolah sangat dipengaruhi oleh kemampuan umum kita yang diukur oleh IQ, IQ yang tinggi meramalkan suskse terhadap prestasi belajar. Namun IQ yang tinggi ternyata tidak menjamin sukses di masyarakat (Segal, 1997:14). Pada permulaan tahun sembilan puluhan berbagai penelitian menunjukkan (Segal, 1997:5) bahwa diinspirasi oleh berbagai psikolog humanis seperti Maslow, Rollo May, Carl Rogers yang sangat memperhatikan segi-segi subyektif (perasaan) dalam perkembangan psikolog, eksplorasi tentang emosi telah menunjuk pada sumber-sumber emosi (Segal, 1997, Goleman, 1995).

Ternyata bahwa emosi selain mengandung persaan yang dihayati seseorang, juga mengandung kemampuan mengetahui (Menyadari) tentang perasaan yang dihayati dan kemampuan bertindak terhadap perasaan itu. Bahkan pada hakekatnya emosi itu adalah impuls untuk bertindak.

Goleman menyatakan bahwa selain rational mind, seorang memiliki an emotional main yang masing-masing diukur oleh IQ dan EQ dan bersumber masing-masing dari head dan heart. kedua kehidupan mental tersebut, meskipun berfungsi dengan cara-caranya sendiri, bekerjasama secara sinergis dan harmonis.

* Homo sapiens yang memiliki neocortex(otak depan) yang merupakan sumber rasio, yaitu otak depan, terdiri dari pusat-pusat yang memahami dan mendudukan apa yang diamati oleh alat dria kita. Dalam evolusi tentang pengtahuan kemampuan organisma, ternyata bahwa penanjakan kehidupan manusia dalam peradaban dan kebudayaan adalah kerja neocortex yang ternyata juga menjadi sumber kemampuan seseorang untuk perencanaan dan strategi jangka panjang dalam mempertahankan hidup (Goleman, 1995:11).

Perkembangan ini menjadi otak memiliki nuansa terhadap kehidupan emosional seseorang. Struktur lymbic (sumsum tulang belakang) menghidupkan perasaan tentang kesenangan dan keinginan seksual, yaitu emosi yang mewujudkan sexual passion. Namun keterkaitan sistem lymbic tersebut dengan neocortex menumbuhkan hubungan dasar ibu-anak, yang menjadi landasan untuk unit keluarga dan commitment jangka panjang untuk membesarkan anak (spesi yang tidak dimiliki organisma ini seperti binatang melata, tidak memiliki kasih sayang) dan sering membunuh dan /atau menghancurkan anaknya sendiri. Masa anak dan masa belajar panjang (long childhood) bersumber dari saling keterhubungan neuron-neuron dalam 'pabrik' otak ini.

* Amygdala adalah neuron yang mewujudkan struktur keterhubungan di atas brainstem dekat dasar dari limbic ring(cincin sumsum tulang belakang antara emosi dan rasio). Amygdala adalah tempat penyimpanan memori emosi.

Joseph Le Doux, neoroscientist dari Center for Neural Scince New York University menemukan peran penting amygdala dalam otak emosional. Amygdala menerima input langsung melalui alat dria dan memberikan signal kepada neocortex, namun juga dapat memberikan respons sebelum tercatat di neocortex. Jadi ada kemungkinan respons manusia sebelum ia berfikir. 

Ditulis oleh Administrator dari : Depdiknas

Peran Orang Tua sebagai Guru Pertama dalam Pendidikan Anak

Jakarta -- Tony Buzan hadir menjadi pembicara  Seminar “How Smart Parents Make Smart Kids”.
Seminar tersebut diselenggarakan Yayasan Pendidikan Qolbun Salim, Buzan Indonesia dan Kementerian Pendidikan Nasional. Acara yang bertempat di Auditorium Kemdiknas tersebut, dihadiri banyak pengamat pendidikan dan dibuka oleh Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Minggu (25/09).

Tony ,seorang pendidik dan penemu metode berpikir dengan menggunakan skema mind mapping yang tersohor tersebut, yang tahun ini dinominasikan untuk meraih  nobel karena jasanya dalam mengembangkan pendidikan global dan kemanusiaan ini menyampaikan, setiap orang tua adalah guru pertama dan terpenting yang ditemui oleh setiap anak ketika lahir di dunia. Peran orang tua tersebut tentu tidaklah mudah, karena mereka haruslah mampu melihat dan kemudian memfasilitasi segala bakat yang dimiliki seorang anak.

Hal senada diungkapkan Fasli. Dia menilai, keluarga merupakan gerbang pertama tempat bakat seorang anak harus ditemukan dan difasilitasi. “Kita memiliki 53 Juta keluarga, bayangkan apabila 53 juta keluarga ini memiliki satu anggotanya saja, baik ayah, ibu, kakak atau adik yang mengerti dengan apa yang disampaikan Tony ini, maka anak Indonesia akan menjadi generasi memiliki daya saing “ sahut Fasli.

Peranan yang sama pun diemban oleh guru. Fasli mengungkapkan bahwasanya hingga saat ini tercatat  tidak kurang dari 240 ribu guru TK, lebih dari 200 ribu guru PAUD nonformal dan termasuk 1,5 Juta guru SD yang memiliki tanggung jawab besar menemukan bakat, dan minat peserta didiknya di sekolah.

Fasli menjelaskan, tugas para pendidik ini adalah dapat memastikan, bahwa apa saja yang peserta didik dapat di rumah, para pendidik dapat terus memastikan untuk memberikan peluang, kesempatan dan kasih sayang terhadap segala bakat yang dimiliki oleh para peserta didik. “Bila ini terjadi, setiap kali kita melakukan kontak dengan mereka, kita akan menemukan harapan dan rasa percaya diri bahwa peserta didik inilah yang akan membangun bangsanya kelak.”

Adapun Tony mendefinisikan arti dari sebuah profesi guru  sebagai, “seorang pribadi yang bertanggung jawab dalam menggali, menemukan dan memfasilitasi bakat sang anak.“
Tony pun kemudian menyadarkan para peserta tentang begitu beragamnya kecerdasan anak. Segala kecerdasan yang dimiliki sang anak tentu berbeda-beda dan tidak pernah sama. Tidak pernah ada kecerdasan yang dinilai mutlak. Tony pun kemudian mempertanyakan arti dari pemberian label cerdas pada seorang anak. “Apakah arti cerdas itu sendiri?” kata  pria yang tercatat dua kali menjadi editor MENSA, sebuah perkumpulan untuk individu yang memiliki IQ (intelegensia quotient) tertinggi di dunia.

Kemudian,Tony pun menyoroti banyaknya guru yang melakukan penghakiman atau pelabelan pada muridnya. Menurut pria yang tercatat memiliki creativity quotient (CQ), tidak ada seorang pun yang berhak melakukan segala pelabelan tersebut, “Siapa yang memiliki hak untuk menyatakan bahwa anda tidaklah cerdas dan anda cerdas, dan siapa yang juga berhak mengatakan bahwa anak tidak berbakat menjadi seorang ilmuwan dan teman Anda memiliki bakat tersebut?. Jawaban saya adalah tidak ada seorang pun yang berhak melakukan itu kepada Anda. Riset saya bertahun-tahun, mengonfirmasi bahwa semua anak jenius. Mereka hanya menunggu untuk kita menemukan kejeniusan mereka, dan ini adalah tanggung jawab dari seorang guru dan orang tua. Tugas keduanya adalah pekerjaan paling penting di dunia,” katanya memaparkan.

Fasli mengakui tidak sedikit para pendidik bahkan orang tua yang sering memberikan pengklasifikasian kepada peserta didik atau anak mereka. “Ini sebetulnya persoalan yang sangat mendasar, jelas sekali betapa kita dapat dengan mudah dan cepat mengklasifikasikan anak-anak kita, ini anak nakal dan itu anak malas, siapa yang berhak menentukan itu semua?” (yogi)

Sumber: http://www.kemdiknas.go.id/kemdiknas/berita/65

Tuesday, September 13, 2011

Mulianya Sikap Memaafkan

Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al Qur’an adalah sikap memaafkan:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al-A'raf 7:199)

Dalam ayat lain Allah berfirman:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An Nuur, 24:22)

Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur'an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

... dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun, 64:14)

Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur'an :

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

"Yaitu orang2 yang menginfakkan hartanya ketika lapang dan sempit dan menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain." (QS. Ali ‘Imraan, 3:134)

Menurut Harun Yahya Para peneliti percaya bahwa pelepasan hormon stres, kebutuhan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot jantung, dan kekentalan yang bertambah dari keping-keping darah, yang memicu pembekuan darah menjelaskan bagaimana kemarahan meningkatkan peluang terjadinya serangan jantung. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar, dan menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, dan oleh karenanya memperbesar kemungkinan terkena serangan jantung.

Pemahaman orang-orang beriman tentang sikap memaafkan sangatlah berbeda dari mereka yang tidak menjalani hidup sesuai ajaran Al Qur'an. Meskipun banyak orang mungkin berkata mereka telah memaafkan seseorang yang menyakiti mereka, namun perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hati mereka. Sikap mereka cenderung menampakkan rasa marah itu. Di lain pihak, sikap memaafkan orang-orang beriman adalah tulus. Karena mereka tahu bahwa manusia diuji di dunia ini, dan belajar dari kesalahan mereka, mereka berlapang dada dan bersifat pengasih. Lebih dari itu, orang-orang beriman juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan orang lain salah. Ketika memaafkan, mereka tidak membedakan antara kesalahan besar dan kecil. Seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka tanpa sengaja. Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir tertentu, dan karena itu, mereka berserah diri dengan peristiwa ini, tidak pernah terbelenggu oleh amarah.

Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat baik jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress [tekanan jiwa], susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini.

Memaafkan, adalah salah satu perilaku yang membuat orang tetap sehat, dan sebuah sikap mulia yang seharusnya diamalkan setiap orang

Dalam bukunya, Forgive for Good [Maafkanlah demi Kebaikan], Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres. Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa:

Permasalahan tentang kemarahan jangka panjang atau yang tak berkesudahan adalah kita telah melihatnya menyetel ulang sistem pengatur suhu di dalam tubuh. Ketika Anda terbiasa dengan kemarahan tingkat rendah sepanjang waktu, Anda tidak menyadari seperti apa normal itu. Hal tersebut menyebabkan semacam aliran adrenalin yang membuat orang terbiasa. Hal itu membakar tubuh dan menjadikannya sulit berpikir jernih – memperburuk keadaan.

Sebuah tulisan berjudul "Forgiveness" [Memaafkan], yang diterbitkan Healing Current Magazine [Majalah Penyembuhan Masa Kini] edisi bulan September-Oktober 1996, menyebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan merusak keseimbangan emosional bahkan kesehatan jasmani mereka. Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa orang menyadari setelah beberapa saat bahwa kemarahan itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan memperbaiki kerusakan hubungan. Jadi, mereka mengambil langkah-langkah untuk memaafkan. Disebutkan pula bahwa, meskipun mereka tahan dengan segala hal itu, orang tidak ingin menghabiskan waktu-waktu berharga dari hidup mereka dalam kemarahan dan kegelisahan, dan lebih suka memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain.

Semua penelitian yang ada menunjukkan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, di sisi lain, meskipun terasa berat, terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak terpuji, yang menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara lahir maupun batin. Namun, tujuan sebenarnya dari memaafkan –sebagaimana segala sesuatu lainnya – haruslah untuk mendapatkan ridha Allah. Kenyataan bahwa sifat-sifat akhlak seperti ini, dan bahwa manfaatnya telah dibuktikan secara ilmiah, telah dinyatakan dalam banyak ayat Al Qur’an, adalah satu saja dari banyak sumber kearifan yang dikandungnya.

Mulai saat inilah tidak ada kata terlambat bagi kita untuk selalu introspeksi diri, sejauh mana dada dan hati kita memaafkan kesalahan orang lain atau meminta maaf atas segala kesalahan kita. Hindari sikap egoisme dalam diri yang membuat setiap manusia lupa akan hakikat jati dirinya. Karena manusia yang besar adalah manusia yang dapat mengendalikan hawa nafsunya, tidak mudah marah, lapang dada dan hatinya serta selalu mementingkan kemaslahatan ummah.

Source : ditulis oleh ust.agus handoko

http://www.pesantrenvirtual.com/index.php/component/content/article/22-pengajian/1260-mulianya-sikap-memaafkan